'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Profil
PETAKA RUMAH TANGGA RASULULLAH oleh Sri Muryani Ilham
17 November 2021 18:19 WIB | dibaca 5

PETAKA RUMAH TANGGA RASULULLAH, HADITSUL IFKI

Oleh : Sri Muryani Ilham

           

Bismillah wal hamdulillah. Puji dan syukur setulus hati  hanya kami  persembahkan bagi Allah Yang Maha Pencipta, Penguasa dan Pemelihara jagad raya. Teriring shalawat dan salam semoga tercurah kepada Kekasih dan UtusanNya,  Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam beserta keluarga, para sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia.

Muhammad SAW  adalah manusia biasa seperti halnya dengan kita semua, hanya saja beliau diberi wahyu oleh Allah yang tidak diberikan kepada kita. Beliau selalu  berada dalam bimbingan dan penjagaan  Allah serta  dijauhkan dari segala sifat yang  tercela, beliau seorang yang ma’shum. Namun sebagaimana layaknya manusia biasa beliau tidak luput dari cobaan, ujian, penderitaan, disamping kesenangan, kegembiraan dan tawa ria.

Penulis ingin mengisahkan satu diantara peristiwa yang dialami oleh Rasulullah, kejadian yang sangat pedih yang menggoncangkan jiwa  dan hampir merobohkan rumah tangga beliau  bersama isteri tercinta   Aisyah binti Abu Bakar. Peristiwa itu disebut Haditsul Ifki ( berita bohong, palsu, dusta dan fitnah)

Suatu ketika tersiarlah kabar berita bahwa Ummul Mukminin Aisyah RA, melakukan perselingkuhan dan berbuat mesum dengan seorang sahabat muda Nabi.

Saat itu tengah terjadi peperangan melawan  kelompok Yahudi Bani Musthaliq,dimana ibu Aisyah (salah seorang dari isteri Rasulullah)  mendapat kesempatan untuk dapat ikut serta bersama pasukan Rasulullah. Alhamdulillah peperangan itu menghasilkan  kemenangan yang gemilang bagi kaum mukminin.

Di saat perjalanan pulang  menuju Madinah, saat itu sudah tengah malam, pasukan berhenti sejenak untuk beristirahat. Ibu Aisyah keluar dari tandunya dan setelah selesai keperluannya lalu kembali masuk ke tandu. Tiba-tiba ketika meraba lehernya terasa kalung kesayangannya tidak ada, maka dia turun kembali mencari kalungnya sampai ketemu, kemudian  beliau kembali lagi menuju tandunya. Namun apa yang terjadi, beliau tertinggal, rombongan sudah berangkat tanpa mengetahui ibu Aisyah keluar dari tandu.  Ibu Aisyah yakin bahwa rombongan pasti akan kembali lagi untuk menjemputnya, maka beliau menunggu sambil bersandar di tepi jalan dan  karena kelelahan tertidurlah beliau.

Kebetulan seorang sahabat muda Rasulullah bernama Shofwan bin Mu’athal tertinggal rombongan juga. Saat melintasi  tempat dia melihat sosok perempuan tertidur di jalan, ternyata perempuan itu  adalah ummul mukminin Aisyah, tentu saja dengan sangat terkejut dan spontan Shafwan mengucap : Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Segera unta dipinggirkan dan ibu Aisyah dipersilahkan naik dan Shafwan menuntun untanya di depan, tidak ada sepatah katapun yang diucapkan selama dalam perjalanan hingga sampai di Madinah.

Tidak terbersit sedikitpun di dalam benak ibu Aisyah bahwa kejadian itu menjadi bahan provokasi dan fitnah besar yang cepat sekali menyebar baik di kalangan orang munafik maupun di kalangan orang mukminin sendiri dan tidak ketinggalan di kalangan isteri-isteri Rasulullah yang lain.

Peniup terompet berita bohong itu tak lain adalah musuh terselubung mukminin yaitu Abdullah bin Ubay. Begitu lihainya dia menyulut dan menyebar api fitnah dan berita bohong  bahwa bunda Aisyah telah berbuat selingkuh dan berzina dengan Shofwan bin Mu’athal yang turut serta dalam perang  Badar. Karena terbukti ibu Aisyah telah berdua dengan Shofwan.

Begitu cepatnya berita itu  menyebar di seantero kota Madinah, membuat Rasulullah sangat galau dengan kejadian itu. Kemudian dipanggilnya  Ali bin Abi Thalib dan beberapa  sahabat yang lain untuk memberikan pendapat atas kejadian  yang terjadi. Rupanya Ali termasuk salah seorang yang terpengaruh oleh berita itu, dia memberi saran kepada Rasulullah agar diceraikan saja Aisyah, bukankah banyak perempuan-perempuan yang baik dan cantik di Madinah. Namun ada sahabat yang lain  yang memberikan komentar bahwa mereka  tidak pernah melihat keburukan pada diri ummul mukminin Aisyah binti Abu Bakar. 

Setelah mengetahui bahwa dirinya menjadi sumber berita dusta yang telah menyebar luas, siang dan malam tak henti-hentinya ibu Aisyah  menangis sehingga menambah parah  sakit demam yang diderita sepulangnya dari perjalanan panjang  yang melelahkan.

Bertambahlah pula kesedihan beliau dikarenakan adanya perbedaan sikap Rasulullah kepadanya, dirasakan Rasulullah makin acuh terhadap dirinya.  Biasanya Rasulullah sulit memberi izin ibu Aisyah menginap di rumah Abu Bakar orang tuanya, tapi kali itu begitu mudah mendapat izin . Hancur luluh hati ibu Aisyah, tapi dia tidak berdaya, apapun  upaya pembelaan yang dia sampaikan pasti tidak akan dipercaya. 

Keadaan seperti itu berlangsung selama satu bulan, sedang siaran berita bohong semakin gencar bagai api memakan ilalang.Sungguh suatu petaka dan prahara bagi  keharmonisan rumah tangga Rasulullah, satu bulan serasa berada dalam cekaman neraka.

Suatu hari tatkala Rasulullah menjenguk ibu Aisyah di rumah mertuanya Abu Bakar , Rasulullah jatuh pingsan, pertanda wahyu Allah turun padanya. Bukankah setiap turunnya  wahyu Rasulullah merasa bagaikan memikul beban yang teramat berat sehingga unta yang dinaikinyapun terjatuh jika wahyu  turun saat Rasulullah sedang mengendarai unta.

Benarlah, Rasulullah menerima wahyu Allah yang membersihkan / menyucikan ibu Aisyah dari berita bohong seraya beliau  bersabda :  “Wahai Aisyah, Allah telah mensucikan dirimu , bahwa engkau suci dari berita dusta yang merebak itu.”

Turunlah sepuluh ayat dari Surat An Nur, ayat 11 -20, ayat yang menyelamatkan rumah tangga Rasulullah, yang membela kebenaran dan kesucian ibu Aisyah. Menghilangkan kepedihan  perasaan ayah bunda ibu Aisyah dan memadamkan api fitnah yang keji.

Allah sangat murka kepada orang-orang beriman yang termakan provokasi dan berita bohong tanpa tabayyun. Sekiranya bukan karena rahmat dan kasih sayang Allah, mereka akan mendapat azab yang pedih karena telah menuduh saudaranya yang baik melakukan perselingkuhan /perzinaan  tanpa saksi empat orang.

Berikut terjemahan sepuluh ayat pensucian Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar berkenaan dengan  berita bohong dan fitnah keji yang dialaminya .

Ayat 11: Sesungguhnya beberapa orang yang menyebarkan tuduhan dusta tentang Aisyah berzina adalah dari kalangan orang-orang mukmin juga. Janganlah kalian menyangka bahwa kejadian itu merugikan kalian. Kejadian itu justru membawa kebaikan bagi kalian. Setiap orang yang turut menyebar luaskan tuduhan dusta itu akan mendapat hukuman karena perbuatannya  Dan orang yang membuat fitnah itu akan mendapatkan azab yang berat di akhirat.

Ayat 12: Ketika mendengar tuduhan dusta itu, mengapa laki-laki dan perempuan mukmin tidak berprasangka baik saja sesama mereka ? Lalu mereka berkata : “Tuduhan keji itu pasti dusta.”

Ayat 13: Mengapa orang yang membuat tuduhan dusta kepada Aisyah tidak menghadirkan empat orang saksi terhadap tuduhan itu ? Jika mereka tidak dapat menghadirkan saksi empat orang laki-laki maka dalam pandangan Allah mereka itu adalah orang-orang yang berdusta.

Ayat 14: Wahai orang-orang mukmin, sekiranya bukan karena karunia Allah dan belas kasihNya kepada kalian di dunia dan di akhirat, pasti kalian ditimpa azab yang berat karena tuduhan dusta yang kalian lakukan itu.

Ayat 15: Setelah kalian menerima berita dusta dari mulut-mulut sesama kalian, kalian menyebarkan berita itu. Kalian sebenarnya tidak mengetahui kejadiannya dengan pasti. Kalian menganggap bahwa menyebarkan berita dusta itu hal yang remeh. Padahal di sisi Allah perbuatan semacam itu adalah dosa yang sangat besar.

Ayat 16: Ketika kalian mendengar berita dusta itu, mengapa kalian tidak berkata : “Kami sama sekali tidak patut membicarakan berita ini. Engkau Maha Suci ya Allah. Sungguh berita ini adalah kebohongan yang besar.”

Ayat 17: Allah menasehati kalian agar kalian tidak mengulangi lagi perbuatan itu selama-lamanya, jika kalian benar-benar beriman.

Ayat 18: Allah menjelaskan hukum-hukumNya kepada kalian. Allah Maha Mengetahui niat kalian, lagi Maha Bijaksana dalam menetapkan hukuman bagi penyebar berita dusta.

Ayat 19 : Sesungguhnya orang-orang yang senang dengan tersebarnya berita-berita keji di kalangan orang-orang beriman, mereka akan mendapatkan azab yang pedih di dunia dan akhirat. Allah Maha Mengetahui kebenaran yang tidak kalian ketahui.

Ayat 20 : Sekiranya bukan karena karunia Allah dan kasih sayang Nya kepada kalian, niscaya kalian sudah diberi hukuman. Sungguh Allah Maha Pemaaf kepada orang-orang mukmin lagi Maha Penyayang kepada semua makhlukNya.”

Berikut pelajaran yang bisa diambil dari ayat-ayat tersebut :

  1. Peringatan keras dan  kemarahan Allah  kepada orang-orang  yang ikut menyebarkan berita bohong atau fitnah.
  2. Menyebarkan berita bohong merupakan dosa besar.
  3. Menuduh zina kepada seseorang merupakan perbuatan yang sangat keji dalam pandangan Allah SWT.
  4. Menuduh zina tanpa menghadirkan empat orang saksi merupakan kebohongan yang besar dan akan mendapatkan hukuman di dunia dan azab di akhirat.
  5. Hukuman orang yang mempelopori berita bohong adalah dicambuk 80 kali dan sudah dilakukan terhadap tiga orang provokator, dua laki dan satu perempuan.
  6. Tidak pernah Allah memberikan peringatan  keras hingga sepanjang sepuluh ayat yang melebihi peringatan pada kasus ini.
  7. Namun dibalik kemurkaan Allah, Allah masih berkenan memaafkan dan memberikan kasih sayangnya kepada orang-orang mukmin yang mau bertaubat dengan dibebaskannya mereka  dari azab yang pedih di dunia dan di akhirat.

Katakanlah  Muhammad : ”Wahai hamba-hambaKu yang terlanjur melakukan perbuatan yang melampaui batas, janganlah kalian berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah, sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa hambaNya yang mau bertaubat. Sungguh Allah adalah Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhlukNya.” (QS Az Zumar  53)

Shared Post:
Arsip
Profil Terbaru
Berita Terbaru