'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Profil
PROFIL KELUARGA SAKINAH
25 November 2021 09:45 WIB | dibaca 2

PROFIL KELUARGA SAKINAH

Oleh : Sri muryani ilham

 

Bismillah wal hamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa ashhabihi wa man walah.

Dengan menyebut asma Allah marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat NYa, serta menyampaikan shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga , para shahabat dan seluruh pengikutnya.

Istilah keluarga sakinah sudah tidak asing lagi terdengar di telinga hampir seluruh umat muslimin karena kalimat sakinah telah tersebut di dalam Kitab Suci Al Qur’an, khususnya ayat tentang perkawinan, QS Ar Rum (24) ; 21.

Bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah dan warga organisasi ‘Aisyiyah, keluarga sakinah telah menjadi program unggulan untuk disosialisasikan dan diimplementasikan,  khususnya pada keluarga intern Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, dan kepada masyarakat luas pada umumnya.  Sebuah karya buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah telah disahkan oleh Munas Majelis Tarjih PP Muhammadiyah ke 28 di Palembang, dan mengalami revisi yang hasil revisinya telah disebar luaskan pada Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah ke 47 di Makassar pada tgl.3-7 Agustus 2015.

Keluarga Sakinah adalah keluarga dambaan , keluarga yang rukun, tenteram, damai, hermonis, kompak, diliputi cinta dan kasih sayang sesama anggota keluarga, keluarga yang hidup berdasarkan tauhid dan ketaatan kepada Allah  Yang Maha Esa.

 

POTRET KELUARGA BEBERAPA NABIYULLAH

Keluarga Sakinah adalah target yang ingin dicapai oleh setiap keluarga yang dibangun dalam suatu ikatan pernikahan antara seorang laki-laki dan perempuan. Tak ada seorangpun yang tidak mendambakan keluarga sakinah.

Upaya dan kiat untuk menggapainya menuntut motivasi, komitmen dan tanggung jawab dari pasangan suami isteri . Hasil dari upayanya tidak sama antara  keluarga yang satu dengan yang lainnya. Ada yang hasilnya maksimal, ada yang minimal bahkan ada yang gagal sama sekali, semuanya tidak terlepas dari  ikhtiar manusia dan dari iradah serta qadar Allah SWT. Keluarga Nabi pun ada yang tidak berhasil membina keluarga sakinah, walaupun telah melaksanakan tuntunan Allah dengan penuh ketaatan. Allah ingin memberi pelajaran, I’tibar dan hikmah bagi umat manusia  dengan keberhasilan maupun kegagalan keluarga para Nabi tersebut.

Mari kita lihat potret pasangan beberapa Nabiyullah yang kisahnya terdapat dalam Al Qur’anul Karim.

  1. Pasangan Nabi Nuh AS.

Dalam Al Qur’an  dikisahkan bahwa isteri N.Nuh as adalah seorang perempuan yang  kafir  kepada Allah dan ingkar kepada suaminya. Allah menvonis isteri Nuh AS  sebagai salah satu dari penghuni neraka. (QS At Tahrim ).

Hasil dari perkawinan seorang suami yang berkedudukan sebagai  seorang Nabi yang mulia bersama seorang isteri yang kafir, lahirlah Kan’an anak muda yang sombong dan tidak mau taat kepada ayahnya. Ketika banjir bandang dan tsunami melanda negeri Nuh AS, ayahnya memanggil-manggil agar Kan’an masuk ke kapal ayahnya yang akan menyelamatkannya dari bencana.

“Wahai putraku yang aku sayangi ( yaa bunayya), naiklah kedalam  kapal bersama kami, janganlah kamu bersama orang-orang kafir.”

Namun dengan angkuhnya Kan’an menolak dengan alasan akan menyelamatkan diri naik ke puncak bukit , ternyata bukit pun teggelam oleh banjir yang sangat dahsyat. Sebagai azab yang ditimpakan kepada umat Nabi Nuh yang bandel dan keras kepala, yang senantiasa melecehkan dakwah Nuh AS selama kurang lebih 950 tahun. Maka gagal dan kandaslah rumah tangga Nuh AS.

Dalam kisah keluarga Nuh AS ini, secara khusus  bisa kita ambil kesimpulan bahwa pasangan suami isteri yang terdiri dari suami yang shaleh dengan isteri yang kafir maka akan menghasilkan anak yang kafir. Walaupun dalam banyak hal  ada perkecualian, mungkin ada kasus seperti itu ternyata anaknya menjadi anak shaleh seperti ayahnya. Ada pengaruh atau faktor pendekatan siapa yang lebih dekat dan lebih baik komunikasinya antara anak dengan ayah dan ibunya.

 

  1. Pasangan Nabi Luth AS.

Isteri  Luth AS adalah perempuan kafir yang sangat membangkang kepada suaminya yang seorang Nabi. Siang malam Luth AS berdakwah dan memberi peringatan keras kepada umatnya yang mempunyai kebiasaan “sodomi”.  Justru isteri Luth AS yang mendukung dan kerjasama dengan mereka.

Ketika datang dua orang tamu laki-laki yang ganteng dan rupawan ke rumah Luth AS, Isteri Luth memanggil para laki-laki tetangganya untuk datang kerumahnya. Melihat dua orang tamu yang sangat rupawan, bangkitlah nafsu birahi mereka, mereka berebut untuk memperkosa tamu tadi.

LuthASs sangat mengkhawatirkan nasib dua orang tamu tadi, namun tamu tadi memberi tahukan bahwa mereka adalah dua orang Malaikat yang menjelma, yang diutus Allah  untuk menyampaikan berita bahwa umat Luth AS akan mendapat azab yang  dahsyat.

Luth AS dan pengikutnya yang setia yang tidak seberapa jumlahnya, diperintahkan agar pada dini hari meninggalkan kampungnya karena Allah akan menimpakan bencana kepada umat yang perbuatannya sangat tidak senonoh itu.

Maka berangkatlah Nuh as bersama pengikutnya meninggalkan kampung halamannya, isterinya tidak masuk dalam rombongan suaminya.

Azab berupa bumi yang bergoncang keras disertai hujan batu dari langit, hingga bumi menjadi terbalik, binasalah  seluruh  orang yang rusak  akhlaknya itu.

Isteri Nabi  Luth AS adalah satu diantara dua orang perempuan yang divonis Allah sebagai penghuni neraka disamping isteri Nabi Nuh AS. (QS At Tahrim).

 

Potret keluarga yang suaminya seorang shaleh bahkan seorang Nabi tetapi isterinya seorang kafir dan perangainya sangat tercela, tidak berhasil membangun keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah. Hal itu tidak mengurangi martabat Luth sebagai  seorang Nabi utusan Allah karena Nuh  telah berupaya keras menyadarkan isterinya namun tidak berhasil.

 

Allah menjadikan contoh keluarga Luth  sebagai pelajaran bagi orang beriman, bahwa tidak selalu kegagalan rumah tangga merupakan kesalahan seorang suami semata, bisa jadi  karena keingkaran seorang isteri kepada suami yang telah berupaya keras mengajak isterinya kepada jalan yang benar.

 

  1. Potret keluarga Fir’aun.

Pasangan Fir’aun ini penulis tampilkan walaupun dia bukan seorang Nabi, namun kisah Fir’aun beberapa kali disebutkan di dalam Al Qur’an.

Fir’aun seorang raja yang perkasa yang berkuasa di negeri Mesir dengan kejayaannya , yang memerintah dengan sangat otoriter dan diktator. Kejayaannya membuat dia sangat sombong dan sewenang-wenang hingga dia mengaku dirinya sebagai Tuhan. Siapapun yang tidak mengakuinya sebagai Tuhan akan mendapat siksaan berupa salib.

Permaisurinya  bernama Asiyah seorang perempuan beriman yang terpaksa harus  menyembunyikan keimanannya. Dia layani suaminya dengan sebaik-baiknya walaupun hatinya hancur menahan penderitaan dan kepedihan. Kesabaran dan keistiqamahannya mempertahankan keimanannya disamping suami yang kafir dan dhalim, mendapat balasan dari Allah dengan ditetapkannya dia sebagai salah seorang dari dua perempuan yang akan menjadi penghuni surga, adapun yang seorang lagi adalah ibunda Isa AS yaitu  Maryam RA. (QS At Tahrim).

Nasib tragis akhirnya menimpa ibu Asiyah setelah diketahui oleh suaminya bahwa dia seorang mukminah, diapun mendapat siksaan dari suaminya hingga menemui ajalnya.

Do’a beliau diabadikan Allah : “Yaa Rabbi, bangunkanlah untukku rumah di surga, selamatkan  aku dari  Fir’aun dan kekejamannya, dan selamatkan aku dari orang-orang yang dhalim.”

Berbeda dengan keluarga Nuh dan Luth , pasangan Fir’aun ini adalah potret isteri shalihah yang bersuami laki-laki yang kafir dan dhalim, maka dengan kesabaran seorang isteri dan tetap berpegang teguh pada keimanan dan keyakinannya yang benar, maka balasan Allah adalah surga di akhirat nanti.

 

  1. Potret Keluarga Ibrahim AS.

Keluarga Ibrahim  inilah potret keluarga sakinah yang sejati.

Berkali-kali nama Ibrahim disebut dan dipuji-puji oleh Allah SWT didalam Al Qur’an  atas  keshalehan, keteguhan keyakinan, kearifan, dan kecerdasannya. Diantara gelar yang disandangnya selain Nabiyullah, juga Khalilullah (Kekasih Allah),  Abul Anbiya’ (Bapak para Nabi), dan Bapak Tauhid.

Isterinya seorang wanita Palestina yang cantik jelita bernama Sarah, sayang pasangan Ibrahim hingga usia lanjut belum dikaruniai anak. Ibrahim terus menerus berdo’a memohon kepada Allah : “Yaa Rabb, anugerahilah aku anak yang shalih.”

Do’a beliau dikabulkan melalui isterinya Hajar, perempuan berkulit hitam hadiah dari Raja Namrud karena Hajar perempuan yang tidak bisa digoda oleh  sang Raja.

Lahirlah Ismail yang kelak setelah dewasa menjadi seorang Nabi. Dari Ismail AS menurunkan Nabi terakhir Muhammad SAW.

Adapun ibu Sarah isteri pertama Nabi Ibrahim, dengan izin dan iradah Allah, dalam usia yang sudah lanjut juga dianugerahi seorang anak bernama Ishak yang nantinya akan menjadi seorang Nabi juga. Dari Ishak menurunkan Nabi Ya’kub , dan dari Ya’kub  menurunkan Nabi Yusuf hingga Nabi Isa.

Itulah sebabnya Nabi Ibrahim disebut Bapak Para Nabi. Ibrahim adalah figur seorang suami dan bapak yang sangat ideal,mengayomi, menyayangi, mendidik dengan keteladanan dan senantiasa mendoakan agar anak cucunya menjadi generasi penegak tauhid dan penegak shalat. Do’a beliau yang abadi : “Yaa Rabb, jadikanlah aku dan anak  keturunanku menjadi penegak shalat. Wahai Rabb kami, terimalah do’a permohonan kami.”

Demikian potret keluarga sakinah yang sebenar-benarnya, keluarga yang terdiri dari suami yang shalih, isteri yang shalihah dan anak yang birrul walidain.

Kita ingat sikap Ibrahim as ketika menyampaikan mimpinya untuk  menyembelih Ismail. Begitu bijaksana ayah menyampaikannya  : “ Yaa bunayya (wahai anakku tersayang), aku bermimpi menyembelihmu, bagaimana pendapatmu ?”

Ismail menjawab : “Yaa abatii (wahai ayahku tercinta), jika itu perintah Allah, laksanakanlah wahai ayah, insya’Allah ayah akan menyaksikan aku sebagai seorang yang sabar.”

Masya’Allah… Allahu Akbar..keluarga mana yang seindah keluarga Ibrahim as ?

 

KESIMPULAN

Keluarga Sakinah didirikan dengan pilar-pilar sebagai berikut :

  1. Suami sebagai imam keluarga memiliki sifat amanah, faham agama, ulet dan menjaga diri dari perbuatan ma’siyat, menjadi suri tauladan bagi isteri dan anak-anaknya.
  2. Suami sebagai qawwam isteri, memiliki sifat asah,asih, asuh, ngayomi, memberi nafkah dan menyenangkan isteri ( QS Annisa’ 35 ).
  3. Isteri sebagai wanita shalihah yang taat kepada Allah dan patuh kepada suami selama suami berjalan di Jalan Allah, menjaga kehormatan diri dalam pergaulan, terlebih jika suaminya tidak berada di dekatnya ( An Nisa’ 35).
  4. Suami dan isteri saling mendorong untuk berbakti kepada orang tua kedua belah pihak, bersikap adil terhadap orang tua dan mertua (birrul walidain).
  5. Didalam keluarga ditegakkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar.
  6. Menegakkan kesetaran dengan saling menghargai, menghormati, menyayangi, memotivasi, kerjasama dalam urusan domestik rumah tangga tanpa memberatkan pada salah satu pihak.

 

SEMOGA KELUARGA KITA TERMASUK KELUARGA SAKINAH YANG DIRIDHAI DAN DIBERKAHI  ALLAH YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG.

Aamiin Allahumma aamiin.

 

Tangsel, November 2021 / Rabi’ul akhir 1443.

 

Shared Post:
Arsip
Profil Terbaru
Berita Terbaru